Bone, Kompak Nusantara.com -- Pagelaran Tari Padendang Lallatang 2026 sukses digelar di Lapangan Sepak Bola Desa Lallatang, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan yang diprakarsai pemuda-pemudi Desa Lallatang ini merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 yang didukung Balai Pelestarian Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Mengusung semangat pelestarian budaya dan ketahanan pangan, pagelaran menampilkan Tari Sere Alusu, Tari Katoang Toraya, dan Tari Padendang sebagai pertunjukan utama sekaligus peluncuran Tari Padendang Lallatang. Penampilan dimeriahkan oleh 33 penari cilik sebagai simbol regenerasi pelaku budaya.
Pertunjukan dikoreografikan oleh Nuratika dengan asisten koreografer Nurfaizah, didukung tim pelatih Feby Pratiwi, Aisyah, Hasrianti, dan Syahrini.
Pola tari disusun Nahdatul Auliah, Ulfa, dan Dwi Andini, sementara tata artistik digarap Isnal, Jay, Hardi, Jusry, Ishar, Ipal, Sardi, dan Alif. Tim Manajemen ditangani Sefika, Ana, Martina, Merianti, dan Merianti Ansar. Pengunjung juga disuguhi kuliner tradisional khas Lallatang yang disiapkan kelompok Mama Cilik.
Kegiatan dibuka oleh perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan dengan menyimpan atau mendokumentasikan tradisi, tetapi harus terus dihidupkan melalui kegiatan nyata yang melibatkan masyarakat sebagai pemilik dan pelaku utama kebudayaan.
"Pagelaran Tari Padendang Lallatang menjadi contoh nyata bagaimana kebudayaan dapat terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga membangun ruang belajar bersama serta memperkuat rasa bangga masyarakat terhadap identitas budayanya," ujarnya.
Pagelaran dihadiri masyarakat dari berbagai wilayah di Kabupaten Bone hingga luar daerah, serta perwakilan Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata, Camat Dua Boccoe, kepala sekolah, tokoh adat, tokoh masyarakat, pelaku seni, dan organisasi kepemudaan.
Selain penampilan para maestro Padendang Lallatang, kegiatan juga menghadirkan sesi Bincang Karya. Herwandi, S.P. selaku tokoh masyarakat mengulas sejarah Mappadendang yang berkembang sejak sekitar tahun 1960-an sebagai tradisi yang lahir dari musyawarah masyarakat dan sarat nilai gotong royong serta rasa syukur atas hasil pertanian.
Harnita Rahman, S.IP., M.Hum., Founder Kedai Buku Jenny, membawakan materi "Mendekatkan Seni pada Anak" dengan menekankan pentingnya pendidikan seni dalam membentuk karakter sekaligus menjadi sarana regenerasi pelaku budaya. Sementara itu, Haryudi Rahman, S.Pd., M.Sn., Ketua LP2M Institut Kesenian Makassar, melalui materi "Peristiwa Lallatang" menjelaskan bahwa bunyi Padendang merupakan simbol ingatan kolektif masyarakat yang membangkitkan semangat atau mappalisu sumange', sekaligus merepresentasikan harmoni, kebersamaan, dan kehidupan agraris masyarakat Lallatang.
Moderator Muh. Jayadi Jahidin turut memperkenalkan lesung kayu berusia sekitar 70 tahun yang diyakini sebagai salah satu lesung pertama dalam tradisi Mappadendang di Desa Lallatang sebagai simbol perjalanan dan pewarisan budaya lintas generasi.
Ketua Panitia, Muh. Jayadi Jahidin, menegaskan bahwa Padendang merupakan identitas budaya masyarakat Desa Lallatang yang harus terus dijaga.
"Tradisi Padendang merupakan identitas yang dimiliki oleh masyarakat Desa Lallatang. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini harus terus dilestarikan, diperkenalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tidak hilang oleh perkembangan zaman," ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan, khususnya Sarmianti Ansar selaku penanggung jawab kegiatan, beserta seluruh panitia, tim kreatif, maestro Padendang, penari, tokoh adat, dan masyarakat.
"Atas nama panitia, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu dan berpartisipasi. Kami juga memohon maaf apabila selama pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan, baik dalam pelayanan, penyambutan, maupun pelaksanaan rangkaian acara," tutupnya.
Pagelaran Tari Padendang Lallatang 2026 menegaskan bahwa pelestarian budaya hanya dapat terwujud melalui kolaborasi masyarakat, pemerintah, pelaku seni, dan generasi muda sehingga tradisi Mappadendang tetap hidup sebagai identitas sekaligus kebanggaan masyarakat Desa Lallatang dan Kabupaten Bone. ( Tubagus )

0 Komentar