Bone, kompak Nusantara.com -- Setiap pagi, truk-truk pengangkut sampah bergerak membelah jalanan Kabupaten Bone membawa muatan yang sama: tumpukan sampah dari rumah tangga, pasar, warung, kantor, dan sudut-sudut kota yang tidak pernah benar-benar bersih.
Tujuannya satu — TPA Passippo. Dan setiap hari, tanpa jeda, sampah itu datang, dibuang, ditumpuk, dan dibiarkan. Kita merasa sudah selesai. Kita merasa bersih. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya — kita baru saja memindahkan masalah ke tempat yang lebih jauh dari pandangan, dan membiarkannya bekerja secara diam-diam meracuni tanah, air, dan udara — bahkan iklim global.
TPA Passippo bukan tempat di mana masalah sampah berakhir. Ia adalah tempat di mana masalah yang sesungguhnya dimulai. Di balik gerbangnya, jutaan kilogram sampah yang kita hasilkan setiap tahun menggunung bersama-sama — organik dan anorganik, basah dan kering, berbahaya dan tidak berbahaya — bercampur aduk tanpa pemilahan yang berarti.
Dan di dalam tumpukan itulah, kimia alam bekerja tanpa izin, tanpa diundang, tanpa bisa dihentikan begitu saja. Sampah organik yang terpendam jauh di bawah lapisan plastik dan material lain mulai mengurai dalam kondisi tanpa oksigen.
Proses inilah yang menghasilkan gas metana — gas yang diam-diam menjadi salah satu kontributor terbesar pemanasan global yang kita rasakan hari ini.membangun dan mengoperasikan unit pengolahan sampah organik yang serius — bukan sekadar proyek percontohan setahun lalu dilupakan — tetapi sistem yang hidup, berjalan, dan terukur hasilnya.
Ada salah satu organisasi Pemuda namanya RUMAH SAMPAH yang bukan hanya nama, tapi benar-benar beroperasi dan memberikan nilai balik Edukasi Dan Sosialisasi Pengelolaan Sampah kepada masyarakat.
Kita sering membicarakan perubahan iklim seolah ia adalah masalah yang jauh — seolah ia terjadi di Kutub Utara, di Pasifik, di tempat-tempat yang hanya kita lihat di layar televisi. Tapi perubahan iklim itu ada di sini, di Bone.
Pada saat yang sama, masyarakat Bone perlu mulai melihat dirinya bukan hanya sebagai penghasil sampah, tapi sebagai bagian dari solusi. Memilah sampah di rumah bukan urusan orang kota atau program pemerintah pusat. Ia adalah tindakan paling lokal, paling konkret, yang bisa kita lakukan hari ini — dan dampaknya langsung terasa pada beban yang harus ditanggung TPA Passippo.
Setiap kilogram sampah organik yang tidak sampai ke Passippo adalah satu langkah nyata mengurangi emisi metana. Kecil, tapi nyata. Dan jutaan langkah kecil itulah yang pada akhirnya membentuk perubahan besar.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2026 ini bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah undangan untuk jujur pada diri sendiri — tentang berapa banyak sampah yang kita hasilkan, ke mana ia pergi, dan apa yang terjadi setelah truk sampah itu pergi.
TPA Passippo ada karena kita ada. Ia menanggung beban karena kita menanggungnya. Dan bila kita ingin bumi ini — bumi Bone ini — tidak terus-menerus berteriak lewat kerusakannya, maka percakapan itu harus dimulai hari ini, di rumah masing-masing, dengan tangan kita sendiri.
Penulis: Wiran Susilo Suspi, SH

0 Komentar