TAKALAR - Kompak Nusantara Com-
Bagi Marhawani, belajar bukanlah sebuah fase yang datang lalu selesai. Belajar adalah jalan hidup yang ia tempuh perlahan, kadang tersendat, namun tidak pernah benar-benar berhenti. Di balik perannya sebagai pendidik, kepala sekolah, dan pendiri yayasan, ia juga adalah seorang ibu dari enam anak yang menjalani hidup dengan keteguhan dan kesabaran.
Perjalanan itu bermula pada tahun 1988, ketika Marhawani pertama kali mengenyam pendidikan keguruan di PGSMTP. Ketertarikannya pada dunia pendidikan membuatnya sempat mengabdi sebagai guru honorer di SMP Cokro Aminoto. Pada masa itu, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian yang ia jalani dengan penuh kesungguhan. Namun hidup sering kali berjalan di luar rencana.
Tahun 1989 menjadi titik perubahan besar. Marhawani menikah dan mengikuti suaminya ke Sinjai. Suaminya adalah seorang guru seni yang juga mengabdikan diri di dunia pendidikan. Demi keluarga, Marhawani harus berhenti dari aktivitas mengajar dan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Hari- harinya diisi dengan mengurus rumah, mendampingi anak-anak, dan mendukung tugas suami.
Secara formal, ia tidak bekerja. Namun secara batin, keinginan untuk kembali belajar dan mengajar tidak pernah benar-benar hilang.
Fase ini berlangsung cukup lama. Bertahun-tahun ia berada di rumah, jauh dari ruang kelas dan bangku kuliah. Meski demikian, pengalaman tersebut justru membentuk kesabarannya. Ia belajar bahwa setiap fase hidup memiliki waktunya sendiri. Hingga akhirnya, Marhawani dan suaminya memutuskan kembali ke Takalar. Kepulangan itu bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi juga awal dari keputusan besar dalam hidupnya.
Pada tahun 1998, di usia 33 tahun dan saat telah memiliki empat orang anak, Marhawani memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikan. Ia mendaftar dan menjalani pendidikan D2 Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Keputusan ini tidak mudah. Ia harus membagi waktu antara keluarga, tanggung jawab sebagai ibu, dan tuntutan akademik. Namun bagi Marhawani, pendidikan adalah investasi jangka panjang dan bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk masa depan anak-anaknya.
Selama masa kuliah, Marhawani tidak sepenuhnya meninggalkan dunia kerja. Ia tetap mengabdi sebagai tenaga honorer, sambil menjalani perkuliahan. Ketekunannya membuahkan kepercayaan ketika pada tahun 2003 ia terangkat sebagai guru kontrak pusat di TK Millennium Bajeng, Takalar. Dunia pendidikan anak usia dini semakin menguatkan keyakinannya bahwa mendidik anak-anak berarti menanam harapan sejak usia paling awal.
Perjalanan profesionalnya terus berlanjut. Tahun 2007, Marhawani lulus sebagai CPNS dan ditugaskan di TK Yapta Takalar. Bagi sebagian orang, titik ini mungkin sudah cukup. Namun tidak bagi Marhawani. Ia kembali melanjutkan pendidikan S1 Bahasa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Makassar pada tahun 2009 dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2012. Di masa yang hampir bersamaan, ia dipercaya mengemban amanah sebagai kepala sekolah TK Raodhatul Jannah Takalar, jabatan yang ia jalani dengan penuh tanggung jawab hingga tahun 2016.
Ketika sebagian orang memilih berhenti belajar setelah meraih gelar sarjana, Marhawani justru kembali mengambil langkah maju. Pada tahun 2014 hingga 2016, ia menempuh pendidikan S1 Pendidikan Anak Usia Dini di
Universitas Terbuka. Baginya, belajar bukan tentang mengejar gelar semata, melainkan tentang memperkuat pemahaman dan kualitas diri sebagai pendidik.
Februari 2015 menjadi tonggak penting dalam perjalanan hidupnya. Berbekal pengalaman panjang di dunia PAUD, Marhawani mendirikan sebuah yayasan pendidikan di Kelurahan Manongkoki, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Takalar.
Yayasan tersebut lahir dari kepeduliannya terhadap pendidikan anak usia dini serta keinginannya membuka ruang bagi para lulusan PAUD yang belum mendapatkan kesempatan mengajar. Ia ingin pendidikan menjadi jalan pemberdayaan, bukan hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi para pendidik muda.
Tahun 2016 menjadi fase paling berat dalam hidupnya. Di tahun yang sama ketika ia sepenuhnya mengelola yayasan miliknya sendiri yang dikenal sebagai PAUD Ahrissa Syadina, Marhawani harus kehilangan suami tercinta. Sejak saat itu, ia menjalani hidup sebagai ibu tunggal bagi enam anak. Duka yang mendalam tidak mudah dilalui, namun ia memilih bertahan. Dalam kesunyian dan kelelahan, yayasan yang ia dirikan justru menjadi ruang penguat dan pengingat akan tujuan hidupnya.
Seiring waktu, PAUD Ahrissa Syadina tumbuh bersama kepercayaan masyarakat. Hingga kini, setelah lebih dari sepuluh tahun berdiri, jumlah peminat terus meningkat. Banyak orang tua mendaftarkan anak-anak mereka untuk belajar di sana. Bahkan, tidak sedikit calon peserta didik yang belum tertampung karena keterbatasan ruang belajar. Kondisi ini menjadi bukti bahwa pendidikan yang dikelola dengan ketulusan dan konsistensi akan selalu menemukan tempat di hati masyarakat.
Tahun 2025 menandai masa pensiun resminya sebagai aparatur negara. Namun bagi Marhawani, pensiun tidak pernah berarti berhenti. Ia tetap aktif
sebagai kepala sekolah di yayasan yang ia dirikan sendiri, melanjutkan pengabdian dengan cara yang lebih mandiri dan bermakna.
Satu prinsip yang selalu ia pegang dan tanamkan adalah “belajar dan terus belajar”. Menurutnya, usia bukanlah penghalang untuk maju. Selama seseorang masih mau belajar, selama itu pula harapan untuk berkembang akan selalu ada.
Kisah Marhawani adalah potret keteguhan seorang perempuan yang memilih bertahan di tengah keterbatasan, belajar di tengah kesibukan, dan mengabdi di tengah duka. Dari ruang kuliah hingga ruang kelas yang ia dirikan sendri di Manongkoki, ia membuktikan bahwa ketulusan dan ketekunan mampu melahirkan dampak yang jauh lebih besar dari sekadar jabatan atau gelar.
Penulis: Asti Ayu Fitra Madani

0 Komentar