Ticker

6/recent/ticker-posts

KADES KOLAI SYUKUR.S.IP, HARAPKAN, PEMDA ENREKANG SERIUS MEMBERIKAN PERHATIAN KEPADA PETANI BAWANG




Enrekang, Kompak Nusantara -- Sejak kabupaten Enrekang ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai salah satu sentra produksi bawang merah khususnya di kawasan timur Indonesia maka petani di Enrekang mulai bergairah menanam komoditi bawang merah yang berprospek membangkitkan ekonomi masyarkat.
Tahun demi tahun petani menanam bawang merah terutama di kecamatan Duri komplex yakni mulai di kecamatan Anggeraja, sampai merambah ke kecamatan Alla, Baraka, Malua, dan Kecamatan Baroko.
Saat itu harga cukup baik, sampai Mentri pertanian pada saat itu didampingi Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, dan Bupati Enrekang Muslimin Bando, sekaligus Mentri pertanian melepas ekspor bawang merah ke manca negara.
Pada kesempatan itu Mentri pertanian meminta kepada jajaran kementerian pertanian, exportir, gubernur dan bupati memberikan pembinaan kepada petani bawang menyiapkan bibit, pupuk, dan menstabilkan harga bawang agar tidak anjlok sampai dibawah 10 ribu/ kg.
Ketika ditemui wartawan menanyakan harga bawang sekarang, kepala desa kolai yang juga petani bawang Syukur S.IP mengatakan, kami sangat prihatin karena harga bawang saat ini anjlok turun sampai 5 ribu rupiah/kg, itulah dialami petani bawang di Enrekang termsuk pak Desa Kolai yang juga seorang petani bawang yang ulet.
Dikatakan, dengan adanya komoditi bawang merah yang digeluti petani di Enrekang khususnya di desa Kolai tidak ada lagi pengangguran, namun kali ini kami merasakan kerugian besar karena harga bawang merah turun drastis diambang batas yakni hanya 5 ribu/kg, sementara harga bibit 35 ribu/kg, begitu juga kekurang pupuk.
Karena itu kepala desa Kolai yang juga selaku petani bawang merah sangat mengharapkan kepada bupati dan jajarannya memperhatikan masalah ini karena petani bawang sudah  membantu pemerintah mengatasi pengangguran.
Kades Kolai mengharapkan, bupati Enrekang agar penangkar bawang merah yang ada di Enrekang dapat memproduksi bibit agar petani tidak lagi mengandalkan bibit dari luar sebab bibit lokal juga tidak kalah dengan bibit dari luar.
Dikatakan, kami sudah membuktikan bibit lokal unggul atau tahan di musim hujan, sedangkan bibit dari luar unggul di musim kamarau,itu perbedannya.
Kades Kolai selaku petani bawang sekali tanam butuh bibit 1, 2 ton, berapa banyak petani bawang tentunya butuh tersedinya bibit yang banyak.
Juga Syukur mengharapkan, kepada Pemda Enrekang membina petani agar dapat mengatur jadwal tanam, jangan bersamaan tanam, yang mengakibatkan produksi banyak disisi lain harga anjlok seperti sekarang. (Hafid/red )

Posting Komentar

0 Komentar