Ticker

6/recent/ticker-posts

ANJLOKNYA HARGA BAWANG KARENA AMBISIUS MENANAM BAWANG MERAH




ENREKANG, KOMPAK NUSANTARA ONLINE -- Prokduski bawang merah khususnya dikabupaten Enrekang saat ini melimpah, termasuk proksi dibeberapa daerah di Indonesia sementara daya beli masyarakat konsumen rendah akibat ekonomi negara melemah terdampak pandemi virus covid 19 yang melanda dunia hampir 2 tahun.


Dimana pemerintah membatasi terlalu banyak aktifitas diluar rumah termasuk aktifitas berusaha mengakibatkan pendapatan masyarakat drastis juga turun otomatis daya beli masyarakat sangat rendah.


Ketika ditanya wartawan mengenai penyebab menurunnya harga bawang merah di Kabupaten Enrekang, kades Salu Dewata yang juga petani bawang merah ini Juprijuma mengatakan. rendahnya harga bawang merah di Enrekang kita berpedoman pada hukum pasar apabila produksi suatu komoditi melimpah tentunya hargapun otomatis murah/turun, ini fikiran sangat sederhana.


Kata Jufrijuma produksi melinpah Karena kami petani terlalu ambisius menanam komoditi bawang merah yang memang cukup menjanjikan nilai jual, dibanding komoditi lainnya sehingga petani termasuk saya, ramai ramai menanam bawang merah.

Lanjut Jufrijuma, Tidak berpikir lagi  jika banyak produksi harga bagaimana,  Apakah tetap stabil seperti yang lalu-lalu, nah ternyata pada panen tahun 2021, komoditi bawang  melimpah namun harga anjlok sampai dibwah 10 ribu bahkan sampai 5 ribu/kg.


Dengan harga yang sangat rendah ini banyak petani mengalami kerugian puluhan juta, bahkan ada yang rugi ratusan juta termsuk kades Salu Dewata selaku petani bawang merah.
Kerugian itu dilihat dari segi harga bibit mahal, harga pupuk tinggi dan langkah karena membeli pupuk non subsidi.


Ketika ditanya bagaimana cara agar harga produksi bawang merah ini stabil, Juprijuma mengatakan, Perlunya ada perwilayahan Komoditi, mematuhi Jadwal tanam yaitu Oktober   -Februari, tersediahnya Al-Sinta.


Selain itu yang diharapkan bagi petani bawang merah adalah tersedianya pupuk bagi kelompok tani sesuai RDKK pupuk subsidi yang selama ini dirasakan sulit, dan tersedianya bibit yang berkualitas.


Kenyataan selama kurun waktu dua tahun petani kesulitan dapat pupuk subsidi. terpaksa petani beli pupuk non subsidi yang harga tinggi, mau tidak mau harus dibeli demi menyelamatkan produksi.


Lanjut kata Kades Salu Dewata Jufrijuma, pentingnya tudang sipulung kembali diaktifkan untuk saling memberi masukan untuk melahirkan rekomondasi, sebagai langkah solusi  setiap masalah yang ada.


Ditanya mengenai peran pemerintah terhadap petani bawang kata Jufrijuma, mengaku peran pemerintah cukup besar yang diwakili oleh para petugas penyuluh menyampaikan petunjuk kepada petani.
Menurut Jufrijuma, sesuai hukum pasar jika produksi melimpah pasti harga turun, tidak bisa diintervensi siapapun.

Laporan : Hafid


Editor : Sri Indah Wahyuni

Posting Komentar

0 Komentar